Sampah Emosi

Buanglah Sampah (Emosi) Pada Tempatnya

Jika kita ibaratkan satu jenis emosi negatif yang kita pendam, simpan, dan masih kita bawa adalah sebuah kantong kresek. Kira-kira berapa jumlah kantong kresek yang kita punya dalam hidup ini? Bisa jadi banyak!

Sekarang coba Anda bayangkan, Anda berjalan dengan membawa begitu banyak kantong kresek yang tanpa sadar terus bertambah. Kira-kira apa yang akan terjadi pada Anda? Ya, jawaban dipikiran Anda saat ini benar. Dengan membawa kantong kresek yang banyak tentu Anda akan mudah kelelahan karena berat, langkah pun jadi tidak fleksibel karena Anda sibuk membawa kantong kresek tersebut, dan tentu Anda tidak bisa benar-benar fokus karena mau tak mau fokus Anda akan tersita oleh kantong kresek yang Anda bawa.

Coba sekarang bayangkan jika Anda tidak lagi membawa kantong kresek tersebut. Apa yang kira-kira akan terjadi pada Anda? Tentu langkah Anda jauh lebih ringan, tidak mudah lelah, dan jauh lebih fleksibel daripada sebelumnya dong.

Manusia Sebagai Makhluk Emosional

Sudah sewajarnya jika manusia adalah makhluk emosional. Semua hubungan yang dijalani sebagian besar dibangun atas dasar emosi yang muncul dari interaksi antar manusia. Itulah kenapa fenomena kantong kresek di atas kemungkinan besar akan di alami setiap orang. Siapa sih dari kita yang tidak pernah terlibat dengan emosi?

Jika emosinya positif seperti bangga atau bahagia tentu tidak jadi soal karena emosi positif bisa menjadi dorongan untuk kita lebih maju dan berkembang. Namun, jika emosinya negatif ini bisa menjadi “sampah” jika tidak di-maintain dengan baik. Disebut sampah karena potensinya persis sama yaitu bisa mencemari, mengganggu, bahkan merusak dan juga menyebabkan penyakit terutama di pikiran kita.

Fenomena kantong kresek di atas secara umum dapat membantu kita mengkategorikan tipe orang berdasarkan kesadarannya membuang sampah (emosi), yaitu :

  1. Orang yang sudah memiliki kebiasaan rutin membuang sampah emosinya. Orang seperti ini tentu akan memiliki langkah ringan, memiliki perkembangan personal yang jauh lebih optimal, fokus terjaga, dan berbagai kelebihan lainnya.
  2. Orang yang sudah menyadari bahwa ia memiliki banyak kantong kresek tapi belum tahu bagaimana cara membuangnya.
  3. Orang yang sudah menyadari bahwa ia memiliki banyak kantong kresek tapi belum mau alias masih enggan untuk membuangnya.
  4. Orang yang belum menyadari kantong kresek yang ia bawa, namun sudah mulai merasa bahwa perjalanannya terasa berat dan melelahkan.

Coba kita review bersama dengan jujur, dari empat poin di atas kira-kira termasuk nomor berapakah Anda?

Konsultasi Sebagai Sarana Buang Sampah (Emosi) Yang Tepat

Perlu kita sama-sama pahami, bahwa manusia memang memiliki tempat penampungan sampah sementara. Hanya saja, tempat penampungan ini sifatnya sangat terbatas dan akan mudah penuh.

Bisa Anda bayangkan jika pikiran Anda penuh dengan sampah emosi, apa yang akan terjadi? Stress berlebih, freak out, mood tidak baik, tidak fokus, dan lain sebagainya. Itupun termasuk beruntung jika sifat sampah yang ada tidak mencemari area pikiran bawah sadar Anda. Jika pencemaran sudah terjadi misal karena adanya trauma, tentu hal ini akan membuat keadaannya menjadi tambah rumit.

Selama intensitas emosinya rendah ke menengah mungkin Anda bisa handle proses pembuangan sampahnya sendiri. Namun untuk intensitas yang tinggi atau yang sudah mencemari pikiran Anda biasanya Anda membutuhkan bantuan orang lain. Tukang cukur yang jago mencukur pelanggannya tentu tetap butuh bantuan ketika hendak mencukur dirinya sendiri bukan? 😉

Metode konsultasi terbilang cukup ampuh untuk membantu Anda membuang sampah emosi yang Anda miliki secara teratur. Apakah tidak cukup jika buang sampahnya sekedar curhat saja, kok harus konsultasi?

Saya memiliki pandangan curhat itu biasanya dilakukan individu pada orang yang ia percayai dan sifatnya biasanya keluarga, sahabat, atau bahkan pasangan. Dalam kondisi tertentu memang bisa membantu Anda membuang sampah, pertanyaannya bagaimana ketika curhatan Anda ranahnya di luar kemampuan dan keahlian orang yang Anda curhati? You tell me. 😉

Selain kebutuhan untuk didengar dan merasa dipahami, manusia juga memiliki kebutuhan untuk mendapatkan feedback. Tentu jenis feedback yang bisa membantu mencerahkan atau bahkan memberikannya solusi. Bukan sekedar ucapan yang sabar ya, atau bahkan malah sama-sama meratapi bareng orang yang Anda curhati bahwa hidup ini ternyata memang tidak adil.

Sederhananya, tidak mungkinkan Anda mempercayakan mencukur rambut Anda pada orang yang tidak bisa mencukur? Bisa-bisa hasilnya berantakan dong.

Yuk Konsultasi!

Untuk Anda yang merasa masih berada pada poin 2-4, tidak ada salahnya mulai dari sekarang yuk mulai pastikan dan bersih-bersih kantong kresek yang dibawa. Lalu kemudian membangun kebiasaan membuang sampah secara rutin pada tempatnya. Dengan begitu Anda perjalanan Anda bisa kembali menyenangkan, ringan, dan Anda bisa berkembang jauh lebih hebat daripada sebelumnya.

“Mang, saya masuk di poin 2-4 nih. Trus mulainya harus gimana?” Tenang, Anda bisa mulai dengan berkonsultasi kepada ahlinya. Dengan begitu konsultan bisa membantu, mengarahkan, dan menjelaskan langkah-langkah selanjutnya yang bisa Anda tempuh.

Yuk konsultasi mulai dari sekarang! Semoga bermanfaat!

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *