Ekspektasi

Ekspektasi Itu Tidak Salah, Asal…

Hai, kali ini saya mau share tentang obrolan beberapa waktu lalu dengan seorang client. Tentunya ini telah seizin yang bersangkutan.

Dalam sebuah sesi seorang client bertanya pada saya, “Mas emang salah ya kalo kita berekspektasi?”. 

Pertanyaan yang menarik bukan?

Apa itu Ekspektasi?

Sebelum bahas lebih lanjut mari kita telaah dulu apa itu ekspektasi. Menurut KBBI ekspektasi artinya “Harapan besar yang di bebankan pada sesuatu yang di anggap akan mampu membawa dampak yang baik atau lebih baik”.

Boleh atau Tidak Sih Berekspektasi?

Banyak tulisan bahkan buku yang menyarankan untuk tidak berekspektasi terlalu tinggi karena bisa menyebabkan kecewa berlebih saat ekspektasi yang dimiliki tidak terjawab. Ingat kita garis bawahi lagi bahwa bukan tidak boleh berekspektasi lho ya, tapi disarankan untuk tidak berekspektasi terlalu tinggi atau berlebihan.

Dari statement sederhana di atas kita bisa melihat bahwa berekspektasi itu BOLEH. Ekspektasi-pun sebenarnya wajar bagi kita manusia sebagai makhluk emosional, sah-sah saja.

“Tapi mas, kok banyak yang berekspektasi malah tambah down, tambah depresi karena kecewa? Bahkan beberapa malah jadi merasa unfair. Kok hidup saya mentok, tapi orang lain rasanya bisa cepat maju.”

Jika itu yang terjadi berarti ada yang salah dengan pendekatan orang tersebut dalam berekspektasi. Yuk kita bahas lebih dalam!

Kesalahan Umum Dalam Berekspektasi

Berharap Realita Berubah Demi Dirinya

Kesalahan pertama yang sering terjadi adalah ketika seseorang berekspektasi, mereka cenderung memaksa realita untuk berpihak padanya. Kalau perlu realita harus berubah demi dirinya.

Contohnya ketika seseorang mengikuti ujian masuk universitas. Lalu pada saat tes dia merasa tidak maksimal. Alasannya bisa macam-macam seperti kurang belajar, malas, sakit, dan lain sebagainya. Namun ia tetap berekspektasi agar bisa lulus sempurna, kira-kira apa yang akan terjadi? Ya jawabannya kemungkinan besar berujung kecewa.

Perlu kita sadari lagi, bahwa realita tidak akan berubah hanya dengan kita berekspektasi. Ekspektasi itu adanya di pikiran kita sendiri, sehingga ia tidak memiliki power untuk merubah realita. Sementara yang bisa merubah realita adalah usaha dan doa. This is how the magic works.

Penting bagi kita untuk bisa berdamai dengan realita dan mengukur seberapa jauh kita bisa berekspektasi terhadap orang, keadaan, atau sesuatu.

Menyandarkan Ekspektasi Pada Tempat yang Tidak Tepat

Kesalahan kedua yang sering terjadi adalah menyandarkan ekspektasi kita pada tempat yang tidak tepat. Tempat yang dimaksud ini bisa orang, keadaan, atau sesuatu yang tidak tepat.

Contohnya, seseorang memiliki pasangan yang keras dan tempramen. Kemudian ia berusaha untuk merubah pasangannya dengan segala macam cara yang ia ketahui agar menjadi lebih lembut dan tidak tempramen. Namun, setelah upaya yang ia lakukan pasangannya tidak kunjung berubah dan akhirnya ia kecewa sendiri.

Dalam konteks contoh di atas, ia menaruh ekspektasinya pada tempat yang tidak tepat. Sementara ia ingin pasangannya berubah, belum tentu pasangannya melihat urgensi yang sama untuk berubah sehingga ia enggan untuk berubah. Wajar apabila berakhir kecewa.

Lalu Bagaimana Caranya Berekspektasi yang Tepat?

Sebagai makhluk emosional tentu kita boleh berekpektasi asalkan kita bisa berdamai dengan realita, mengukur seberapa jauh kita bisa berekspektasi sehingga tidak berlebihan, dan menyandarkan ekspektasi itu di tempat yang tepat. Sehingga ketika ekspektasi itu tidak terjawab kita lebih bisa mentoleransinya dan kemudian terus melangkah maju untuk mewujudkan apa yang kita inginkan. 

Dengan pendekatan di atas, kita akan terbebas dari jebakan kecewa berlebih, stres, atau bahkan depresi ketika ekspektasi kita tidak terjawab atau terpenuhi.

Semoga bermanfaat! 😉

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *